Serikat Pendekar Lorong

Uniknya Australia coffee culture

October 11, 2008 · Leave a Comment

Seorang Pendekar yang kini mengelola blog coffee break, mantan penghuni padepon lorong merasakan betapa budaya kopi (coffee culture) di Australia cukuplah aduhai dan unik.

Kemapanan budaya kopi Australia ternyata telah mengubur Starbucks, sebuah jaringan industri kopi dunia yang mengklaim dirinya sebagai pioneer budaya kopi (coffee culture) Amerika dan mencoba mengembangkan sayapnya secara global.

Ya, ketika Starbucks berupaya menutup 600 outlet mereka di seantero dunia, orang masih yakin bahwa itu hanya akan terjadi di Amerika serikat saja. Penutupan lebih disebabkan bahwa ekspansi mereka kelewat kencang. Jadi tidak akan berpengaruh ke starbucks di negara lain. Dibelahan dunia Starbucks terus menggurita. Indonesia sendiri termasuk negara yang menjadi pasar potensial Starbucks.

Namun kemudian semua orang tersentak ketika sekitar 84 starbucks coffee shop di seluruh Australia harus ditutup 61 diantaranya. Kenapa hal ini terjadi? Banyak spekulasi mengapa hal ini terjadi. Namun satu diantaranya alasan bahwa Starbucks menjual budaya kopi dan atmosfer yang mereka ciptakan untuk dinikmati oleh para coffee addict. Mereka kurang menjual kopi sebagai produk. Sedangkan Australia sendiri sudah mempunyai budaya kopi yang cukup kuat. Jadi mencoba menjual suasana dan atmosfer kepada orang yang sebenarnya punya tradisi dan budaya kopi sendiri tentu saja kurang tepat. “Australia has a very sophisticated coffee culture,” begitu kata Starbucks Asia Pacific president John Culver.

Selain itu, Australia -bersama dengan NZ- adalah satu2nya negara diluar Italia yang 100% mempunyai pasar kopi espresso. Rasio espresso mesin terhadap populasi penduduk di Aus dan NZ sekitar 850:1. Hanya dapat dikalahkan oleh Italia. Bandingkan dengan AS yang mempunyai rasio 20.000:1

Categories: ngopi-ngopi
Tagged: ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment